PENELITIAN 50 DATA TINGGI BADAN
Muhammad Ginan Nuriadi
Jurnal Statistika dan Probabilitas
Sekolah
Tinggi Teknologi Garut
Jl.
Mayor Syamsu No. 1 Jayaraga Garut 44151 Indonesia
Email
: jurnal@sttgarut.ac.id
1 1306087@sttgarut.ac.id
I.
PENDAHULUAN
Tinggi badan merupakan data tubuh manusia dalam sisi tingginya yang diukur dalam keadaan murni tinggi badan dari tumit hingga ujung kepala tanpa ada benda lain yang ikut terukur. Tinggi badan manusia bergantung pada faktor lingkungan dan
genetik. Tinggi badan manusia beragam menurut pengukuran antropometri.
Kelainan variasi tinggi badan (sekitar 20% penyimpangan dari rata-rata)
menyebabkan seseorang mengalami gigantisme atau dwarfisme, bila tak lebih dari variasi tersebut masih bisa dikatakan normal. Pertumbuhan rata-rata untuk setiap jenis kelamin
dalam populasi berbeda secara bermakna, di mana pria dewasa rata-rata
lebih tinggi daripada wanita dewasa. Selain itu, tinggi badan manusia
juga berbeda menurut kelompok etnis. Pertumbuhan tinggi badan biasanya berhenti ketika lempeng pertumbuhan
(lempeng efifisis) di ujung tulang menutup. Penutupan ini terjadi
sekitar usia 16 tahun pada wanita atau 18 tahun pada pria. Tetapi,
kadang-kadang pada sebagian orang, baru menutup pada usia sekitar 20-21
tahun.
Tujuan ini untuk mengukur tinggi badan berdasarkan dari ukuran.
II.
LANDASAN TEORI
A. Tabel
Distibusi Frekuensi
Data yang diperoleh dari suatu penelitian yang masih berupa random
dapat disusun menjadi data yang berurutan satu per satu atau berkelompok, yaitu
data yang telah disusun ke dalam kelas-kelas tertentu. Tabel untuk distribusi
frekuensi disebut dengan Tabel Distribusi Frekuensi atau Tabel Frekuensi saja.
Jadi, distribusi frekuensi adalah susunan data menurut kelas-kelas interval
tertentu atau menurut kategori tertentu dalam sebuah daftar. Distribusi Tunggal
adalah satuan-satuan unit, urutan tiap skor, atau tiap varitas tertentu. Daftar
yang memuat data berkelompok disebut distribusi frekuensi kelompok atau tabel
frekuensi bergolong. Distribusi bergolong terdiri atas beberapa interval kelas
dalam penyusunannya. Selanjutnya, dari distribusi frekuensi dapat diperoleh
keterangan atau gambaran dan sistematis dari data yang diperoleh
B. Grafik
Histogram
Histogram adalah grafik yang sering digunakan untuk menggambarkan
distribusi frekuensi. Histogram merupakan grafik batang dari distribusi
frekuensi. Pada histogram, batang-batangnya saling melekat atau berhimpitan.
Grafik dibuat dengan cara menarik garis dari satu titik tengah batang histogram
ke titik tengah batang histogram yang lain. Agar supaya diperoleh grafik yang
tertutup harus dibuat dua kelas baru dengan panjang kelas sama dengan frekuensi
nol pada kedua ujungnya di kiri dan kanan. Pembuatan dua kelas baru itu
diperbolehkan karena grafik histogram merupakan kurve tertutup. Pada pembuatan
histogram digunakan sistem salib sumbu. Sumbu mendatar (sumbu X) menyatakan
interval kelas (batas bawah dan batas atas masing-masing kelas) dan sumbu tegak
(sumbu Y) menyatakan frekuensi.
Langkah-langkah Membuat
Histogram
a.
Membuat absis dan ordinat, berbanding seperti 10 : 7
b.
Absis diberi nama “Nilai“ dan ordinat diberi nama “Frekuensi“, atau f
c.
Membuat skala pada absis dan ordinat. Perskalaan pada absis ini tidak perlu
sama perskalaan pada ordinat. Hal yang
penting adalah skala pada absis harus dapat memuat semua nilai (dan oleh karena
histogram dibuat atas dasar batas nyata, maka skala-skala pada ordinat harus
dapat memuat frekuensi tertinggi).
d.
Mendirikan segiempat-segiempat pada absis. Tinggi masing-masing segiempat harus
sama dengan (sesuai dengan) frekuensi tiap-tiap nilai variabelnya.
Segiempat-segiempat ini berimpit satu sama lain pada batas nyatanya.
Dari tabel dapat dibuat
histogram sebagai berikut.
Contoh lain, dengan
data distribusi prestasi belajar “Statitiska I” dari mahasiswa PGSD, diperoleh
data sebagai berikut.
Dari data pada tabel
1.9 , diperoleh histogram sebagai berikut.
Dari kedua contoh
tersebut, tidak terdapat perbedaan pembuatan histogram dengan menggunakan batas
nyata dengan pembuatan histogram dengan menggunakan titik tengah. Hal yang
berbeda dalam hal ini adalah nilai-nilai yang dicantumkan pada absis, yang satu
mencantumkan batas nyata, sedangkan lainnya mencantumkan titik tengah.
C.. Grafik Poligon
Untuk
membuat grafik poligon, sebenarnya tidak ada perbedaan penting antara grafik
histogram dengan grafik poligon. Perbedaan dalam hal ini terletak hanya pada
a) Grafik histogram
“lazimnya” dibuat dengan mengunakan batas nyata, sedangkan grafik poligon
selalu menggunakan titik tengah.
b) Grafik histogram
berwujud segiempat-segiempat, sedang grafik poligon berwujud garis-garis atau
kurve (garis-garis yang sudah dilicinkan).
Grafik poligon disebut
juga grafik poligon frekuensi, dibuat dengan menghubung-hubungkan titik-titik
koordinat (pertemuan titik tengah dengan frekuensi tiap kelas) secara
berturut-turut. Sebagai contoh, dapat dibuat grafik poligon dari data pada
tabel 1.9. sebelumnya.
D. Grafik Ogive
Grafik
ini disebut juga dengan grafik frekuensi meningkat. Grafik semacam ini, tidak
banyak digunakan dibandingkan dengan kedua grafik sebelumnya (histogram dan
poligon). Grafik Ogive dapat dibuat, baik dari distribusi tunggal maupun dari
distribusi bergolong. Pembuatan Ogive dimulai dengan cara-cara seperti membuat
grafik lainnya, yaitu: (1) membuat sumbu absis dan ordinat, berbanding
kira-kira seperti satu banding tiga perempat, (2) membuat skala pada absis
untuk mencantumkan batas-batas nyata, dan skala pada ordinat untuk mencantumkan
frekuensi meningkatnya, (3) menarik garis-garis dari batas bawah di sebelah
kiri berturut-turut ke batas nyata di atasnya pada ketinggian menurut frekuensi
intervalinterval yang bersangkutan, (4) selanjutnya, disempurnakan dengan
mencantumkan keterangan yang diperlukan untuk penyajian. Hal yang perlu
diketahui bahwa grafik Ogive dibuat dengan menggunakan batas nyata dan bukan
titik tengah sebagaimana grafik poligon. Berikut ini diberikan contoh untuk
membuat grafik Ogive dari distribusi bergolong. Grafik Ogive dapat dibuat
dengan frekuensi meningkat dari atas atau dari bawah..
Grafik Ogive
digunakan, apabila ingin mengetahui “kedudukan” seseorang tentang sesuatu hal
dalam kelompoknya sendiri, bukan pola sifat atau kecakapan kelompok seluruhnya.
Oleh karena itu, banyak ditemui hasil-hasil tes bakat, tes kemampuan khusus,
dan semacamnya yang dilaporkan dalam bentuk Ogive atau grafik frekuensi
meningkat. Hal ini disebabkan karena nilai-nilai test semacam itu
kerapkali digunakan untuk mengadakan penilaian tentang kecakapan
perorangan
III.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A. Data Durasi
B. Tabel Distribusi
Frekuensi
Tabel Ini untuk menentukan nilai maksimal, nilai minimal,
nilai Range, banyaknya kelas dan interval. Dibawah ini sudah di tentukan ,
C.
Table Distribusi Frekuensi Relatif
Tabel ini di peroleh nilai tepi bawah,
tepi atas, frekuesnsi dan frekuensi relatif.
D, Tabel Distribusi
Kumulatif
Tabel ini untuk menentukankuran dari dan lebih dari data
yang di atas dan menentukan frekuensi kumulatif nya.
E. Histogram
Frekuensi
Data
ini untuk menetukan frekuensi dari data yang diatas.
Dan
di peroleh grafik Histogram
F. Poligon
Frekuensi
Data
ini untuk menetukan Nilai tengah dari tepi bawah dan tepi atas.
Dan poligon grafik nya
G. Ogif
Frekuensi
Data
ini menetukan kuran dari i data di atas.
Data
ini menetukan lebih dari i data di atas.
IV.
KESIMPULAN/SARAN
Berdasarkan hasil analisis current system atau sistem yang
sedang berjalan, pengukuran tinggi badan yang menjadi kekurangan dari sistem yang
sedang berjalan ialah dalam Penilaian yang tidak efektif , karena masih
menggunakan pekerjaan secara manual. Oleh karena itu dibutuhkan suatu penelitian untuk membantu pekerjaan sekolah dalam penilaian di bidang olahraga.
V.
DAFTAR
PUSTAKA